Category: Business

  • Kaya Bersyukur vs. Miskin Sabar: Mana yang Lebih Utama bagi Seorang Muslim?

    Kaya Bersyukur vs. Miskin Sabar: Mana yang Lebih Utama bagi Seorang Muslim?


    Pernahkah Anda mendengar kalimat, “Muslim itu harus kaya!”? Pernyataan ini sering kali memicu perdebatan panas. Ada yang setuju karena menganggap kekayaan adalah sarana dakwah, namun ada juga yang menolak keras karena dianggap terlalu mengejar dunia dan melupakan konsep zuhud.

    Dalam sebuah diskusi mendalam bersama Ustadz Khalid Basalamah, topik ini dibedah secara tuntas. Apakah benar Islam mewajibkan umatnya menjadi kaya? Bagaimana sebenarnya kedudukan harta dalam pandangan syariat? Mari kita bahas poin-poin pentingnya.

    1. Benarkah Muslim “Wajib” Kaya?

    Ketika ada seruan bahwa muslim “wajib kaya”, kita perlu meluruskan definisinya. Jika “wajib” yang dimaksud adalah hukum fikih (berdosa jika ditinggalkan), tentu ini keliru karena akan menghakimi orang miskin sebagai pendosa. Namun, jika “wajib” dimaknai sebagai motivasi, maka ini sangat dianjurkan.

    Ustadz Khalid menjelaskan sebuah kaidah menarik tentang perdebatan ulama mengenai mana yang lebih afdhal (utama): Orang Kaya yang Bersyukur atau Orang Miskin yang Bersabar?

    Jawabannya adalah: Orang Kaya yang Bersyukur lebih utama.

    Mengapa? Karena orang miskin yang bersabar, manfaat kesabarannya hanya kembali untuk dirinya sendiri. Sedangkan orang kaya yang bersyukur, dengan hartanya ia bisa membiayai orang miskin, membangun masjid, dan memberikan manfaat luas bagi umat.

    2. “Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia”

    Islam tidak melarang kita mengejar dunia, bahkan dunia bisa menjadi wadah terbaik untuk meraih akhirat. Ustadz Khalid mengutip Surah Al-Qasas ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”.

    Seorang Muslim boleh tampil rapi, memiliki kendaraan yang nyaman, dan rumah yang luas. Konsepnya adalah Halalan Thayibah (Halal dan Berkualitas). Jika Anda mampu membeli buah anggur Grade A yang paling mahal dan berkualitas, silakan membelinya. Islam membolehkan kita menikmati kualitas terbaik selama itu adalah kebutuhan, bukan sekadar keinginan hawa nafsu yang berujung pada tabzir (pemborosan).

    Nabi Muhammad ﷺ sendiri menyebutkan empat pilar kebahagiaan dunia:

    1. Pasangan yang saleh/salehah.
    2. Tempat tinggal yang luas.
    3. Kendaraan yang nyaman.
    4. Tetangga yang baik.

    3. Lingkungan Menentukan Prestasi

    Ingin sukses dunia akhirat? Perhatikan lingkungan Anda. Ustadz Khalid membagikan pengalaman pribadinya saat kuliah di Madinah. Beliau mengamati bahwa mahasiswa yang duduk di barisan depan adalah mereka yang berprestasi dan serius mencatat ilmu, sementara barisan belakang sering kali diisi oleh mereka yang malas.

    Ketika beliau memutuskan pindah ke barisan depan dan bergaul dengan orang-orang berprestasi, nilai beliau pun ikut terdongkrak. Ini membuktikan kaidah Al-Mar’u ala diini khaliili (Agama seseorang tergantung agama temannya). Jika Anda ingin menjadi pengusaha muslim yang sukses, bergaullah dengan mereka yang memiliki visi yang sama, bukan dengan mereka yang justru menjatuhkan semangat Anda.

    4. Fatwa vs. Taqwa: Menghadapi Dilema Pekerjaan Haram

    Banyak pekerja muslim saat ini terjebak dalam dilema: bekerja di tempat yang mengandung riba atau praktik under table (suap). Bagaimana solusinya?

    Ustadz Khalid membedakan dua pendekatan: Fatwa dan Taqwa.

    • Fatwa: Mencari keringanan hukum atau celah yang membolehkan secara syar’i karena kondisi darurat/ketidakmampuan.
    • Taqwa: Kepatuhan total kepada Allah. “Ini haram, saya tinggalkan, saya tidak peduli konsekuensinya, Allah pasti ganti.”.

    Bagi Anda yang ingin mengambil jalan Taqwa (misalnya resign dari pekerjaan riba), ingatlah janji Nabi ﷺ: “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik”.

    Namun, perlu diingat adanya Sunnatullah (Hukum Alam) berupa proses. Penggantian itu tidak selalu instan “simsalabim”. Seperti rasa lapar yang hilang melalui proses makan dan mencerna, rezeki yang lebih baik juga butuh proses ikhtiar dan kesabaran. Nikmatilah proses hijrah tersebut.

    5. The Power of Umrah: Jalur Langit untuk Masalah Dunia

    Terakhir, sebuah tips pamungkas bagi Anda yang merasa jalan buntu dalam rezeki atau masalah keluarga. Syekh Muhammad Ash-Syinqithi memiliki nasihat: Jika Anda mampu, pergilah Umrah.

    Berdoalah di depan Ka’bah, di Multazam. Itu adalah tempat di mana doa-doa diijabah. Banyak kisah nyata, mulai dari masalah rumah tangga yang pelik hingga penyakit lumpuh yang sembuh, selesai setelah seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh di depan Ka’bah.

    Kesimpulan

    Menjadi kaya bukanlah sebuah kewajiban fikih, tetapi menjadi Muslim yang kuat secara finansial dan bertakwa adalah sebuah keutamaan. Jadikan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Kejarlah rezeki yang halal, bergaullah dengan orang-orang saleh dan sukses, serta jangan ragu menggunakan “jalur langit” untuk mengetuk pintu rezeki Allah.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    infografik - kaya vs miskin

  • Strategi Sales & Marketing Efektif untuk Bisnis Jasa

    Strategi Sales & Marketing Efektif untuk Bisnis Jasa

    Ingin meningkatkan jumlah klien dan mempercepat pertumbuhan bisnis jasa Anda? Untuk meraih hasil maksimal, penting memahami bahwa strategi pemasaran untuk produk tidak bisa langsung diterapkan pada bisnis jasa. Artikel ini menguraikan tiga kunci utama strategi sales dan marketing yang terbukti ampuh untuk bisnis jasa, berdasarkan paparan Adam Erhart, pakar pemasaran internasional.youtube​

    Apa Bedanya Menjual Jasa dan Produk?

    Menjual jasa berarti menawarkan sesuatu yang tidak berwujud—tidak bisa dilihat, disentuh, atau dicoba sebelum dibeli pelanggan. Akibatnya, penting fokus pada hasil akhir (end result), bukan sekadar detail layanan.youtube​

    1. Finish Line Language: Sorot Hasil Akhir

    Pelanggan membeli jasa karena ingin solusi atas masalah mereka, bukan sekadar “fitur” dari layanan Anda. Gunakan bahasa yang menggambarkan hasil “garis akhir” untuk klien, seperti:

    • Bukan sesi konsultasi 60 menit, tetapi peningkatan performa atau kesehatan klien.
    • Bukan paket layanan marketing, tetapi peningkatan revenue dan pertumbuhan bisnis pelanggan.
    • Bukan jasa potong rumput, tetapi bebas waktu untuk keluarga di akhir pekan.youtube​

    Ingat kutipan populer: “Orang tidak membeli bor, mereka membeli lubang di dinding.” Bahkan lebih jauh, mereka butuh lubang untuk memasang sesuatu yang berarti bagi mereka, misalnya lukisan keluarga.

    2. Rasio Fitur ke Manfaat: Utamakan Keuntungan Klien

    Salah satu kesalahan pemasaran jasa adalah terlalu menekankan fitur, bukan manfaat. Fokuslah pada apa yang didapatkan pelanggan, bukan sekadar bagaimana layanan diberikan.

    Contoh perbedaan fitur dan manfaat:

    • Fitur: Pengiriman 24 jam.
    • Manfaat: Barang sampai dengan cepat, tanpa cemas.
    • Fitur: Konsultasi online.
    • Manfaat: Hemat waktu, bisa diakses dari mana saja.

    Prinsipnya, setiap fitur harus dikaitkan langsung dengan nilai tambah untuk kehidupan pelanggan.

    3. CASE Funnel: Alur Sales dan Marketing yang Terbukti Efektif

    Adam Erhart memperkenalkan model funnel sederhana tapi efektif, yaitu CASE Funnel, terdiri dari:

    Tahapan CASE FunnelPenjelasan
    TrafficArahkan audiens (dari sosmed, blog, YouTube, iklan) ke tahapan berikutnya
    Opt-inTawarkan lead magnet (e-book, cheat sheet, video gratis) agar mereka memberikan data kontak.
    Authority AmplifierBerikan nilai tambahan via pelatihan singkat atau konten edukatif untuk bangun kepercayaan.
    Application FormKumpulkan data lebih detail melalui formulir aplikasi khusus untuk filter prospek berkualitas.
    Calendar BookingProspek memilih jadwal konsultasi atau meeting dengan Anda.
    Sales CallProses penjualan dilakukan; besar kemungkinan klien sudah teredukasi dan siap join.

    Dengan funnel seperti ini, Anda tidak hanya mendapatkan calon klien yang lebih siap, tapi juga dapat memilih klien mana yang cocok untuk diajak kerja sama.

    Kesimpulan

    Menerapkan tiga kunci utama di atas—Finish Line Language, Rasio Fitur ke Manfaat, dan CASE Funnel—akan memperbesar peluang bisnis jasa Anda dalam mendapatkan lebih banyak klien, efisiensi proses penjualan, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Fokuslah selalu pada hasil akhir bagi pelanggan, bukan sekadar detail layanan. Terapkan alur funnel yang sistematis, sediakan edukasi dan nilai tambahan di setiap tahap penjualan.​

    @erwinsnada | +6287883385800 | www.erwinsnada.my.id


  • Strategi Customer Experience: Kunci Bertahan di Era Kompetisi Modern

    Strategi Customer Experience: Kunci Bertahan di Era Kompetisi Modern

    Di era digital yang semakin kompetitif, pengalaman pelanggan (customer experience) bukan sekadar tren—ini adalah pondasi keberhasilan bisnis jangka panjang. Bahkan menurut studi Gartner dan Walker, 89% bisnis pada tahun 2025 lebih mengutamakan pengalaman pelanggan dibanding harga atau produk sebagai senjata utama bersaing.​

    Mengapa Bisnis Gagal? Bukan karena Produk, Tapi Layanan

    Banyak dari kita pernah kecewa dengan layanan sebuah perusahaan. Biasanya, masalahnya bukan soal harga mahal atau produk yang buruk, melainkan pelayanan yang tidak memuaskan. Pengalaman pribadi Patrick Bet-David sebagai CEO membuktikan, ketika produk atau teknologi alami masalah besar, bisnisnya tetap bertahan karena timnya konsisten memberikan layanan luar biasa. Klien tetap loyal bahkan memaafkan kekurangan teknis, karena mereka merasa didengar dan dihargai.​

    Kerugian Besar karena Layanan Buruk

    Jangan sepelekan efek layanan yang mengecewakan. Forbes melaporkan, kerugian global akibat pelayanan pelanggan yang buruk mencapai USD 3,7 triliun setiap tahunnya! Artinya, pelanggan benar-benar siap berpindah ke kompetitor tanpa toleransi jika merasa diabaikan.​

    Customer Service Bukan Urusan Divisi Saja

    Salah satu pesan terpenting dari video ini adalah: obsesi terhadap pelayanan pelanggan harus dimulai dari level teratas, bukan hanya tugas divisi customer service. Patrick mencontohkan betapa efektifnya melibatkan diri secara langsung bahkan untuk merespons pelanggan yang kecewa atau marah. Dengan sekali telepon, bahkan pelanggan yang sangat kritis bisa berubah pikirannya, atau minimal merasa dihargai sehingga tidak lagi menyebarkan opini negatif secara agresif.​

    Kecepatan dan Aksesibilitas Jadi Penentu Loyalitas

    Sebuah survei US Chamber of Commerce menunjukan 83% pelanggan merasa lebih loyal kepada brand yang responsif dan cepat menangani komplain. Ketika pelanggan butuh bantuan, cepat tanggap dan mudah dijangkau jauh lebih dihargai daripada proses berbelit-belit tanpa solusi. Patrick bahkan membangun komunitas support dimana seluruh level karyawan siap menjawab pertanyaan pelanggan kapan saja, termasuk CEO sendiri.

    Komitmen Jangka Panjang dan Budaya Perusahaan

    Menjadikan layanan istimewa sebagai budaya butuh komitmen seumur hidup, bukan sekadar proyek satu-dua bulan. Patrick menegaskan, konsistensi dalam memberikan pengalaman terbaik—untuk pelanggan maupun tim internal—akan menjadikan perusahaan dan pemimpinnya layak jadi panutan. Bahkan jika suatu hari pelanggan memutuskan pergi, itu terjadi karena mereka tidak menghargai nilai service, bukan karena kita gagal memberi layanan maksimal.​

    Catatan Penutup: Customer Service Itu Mindset

    Tidak peduli apakah Anda pemilik bisnis, agen asuransi, atau karyawan—pemikiran “pelayanan bintang lima” seharusnya menjadi mindset dalam keseharian. Prioritaskan sikap tanggap, jujur, dan menghargai setiap interaksi. Dengan begitu, bukan hanya bisnis yang bertumbuh, tapi juga reputasi personal sebagai pemimpin dan insan yang pantas diikuti.

    @erwinsnada | +6287883385800

  • Jangan Hanya Memberi Layanan, Tunjukkan Kepedulian: Rahasia Membangun Hubungan yang Bertahan Lama

    Jangan Hanya Memberi Layanan, Tunjukkan Kepedulian: Rahasia Membangun Hubungan yang Bertahan Lama

    Banyak orang berpikir bahwa memberikan pelayanan (service) yang baik sudah cukup untuk memenangkan hati pelanggan. Tapi menurut Ron Kaufman, pakar dunia dalam bidang pelayanan, ada perbedaan besar antara service dan care. Dan di sinilah letak rahasia dari hubungan jangka panjang—baik dengan pelanggan, rekan kerja, maupun organisasi.

    Service: Memberi Nilai untuk Saat Ini

    Pelayanan adalah tentang memenuhi kebutuhan yang disepakati. Misalnya, seorang karyawan merasa perusahaannya memberi pelayanan yang baik karena ia mendapat gaji yang layak, fasilitas kerja memadai, atau bahkan promosi dan acara kantor yang menyenangkan. Semua itu tentu penting, tetapi pelayanan yang baik hanyalah pemenuhan kebutuhan saat ini.

    Dalam konteks bisnis, service berarti memenuhi kontrak: apa yang dipesan pelanggan, disampaikan dengan tepat waktu, sesuai spesifikasi, dan dengan sikap profesional. Semua berjalan lancar — tetapi hubungan berhenti di situ saja.

    Masalahnya, pelayanan seperti ini hanya menciptakan transaksi, bukan hubungan.

    Care: Perhatian untuk Masa Depan

    Care berbeda. Ia berbicara tentang kepedulian terhadap masa depan orang lain. Dalam organisasi, bentuknya bisa berupa mentoring, coaching, kesempatan pengembangan karier, atau peluang untuk berkolaborasi lintas tim dan negara. Artinya, perusahaan tidak hanya ingin karyawan “selesai bekerja hari ini,” tetapi ingin mereka tumbuh dan berkembang esok hari.

    Dalam dunia pelanggan, care berarti tidak hanya memenuhi kontrak, tetapi juga memikirkan apa yang benar-benar mereka butuhkan di masa depan. Penyedia layanan yang peduli akan bertanya:

    “Apa lagi yang bisa kami bantu agar bisnis Anda berkembang?”
    “Bagaimana kami bisa mendukung keberhasilan Anda jangka panjang?”

    Ketika pertanyaan seperti ini muncul, pelanggan tahu bahwa Anda bukan hanya vendor, tetapi mitra yang peduli. Dan saat pelanggan memikirkan proyek masa depan, siapa yang akan pertama kali mereka hubungi? Tentu orang yang benar-benar peduli pada mereka.

    Dari Transaksi ke Kemitraan

    Pelayanan tanpa kepedulian bisa berakhir di satu transaksi. Tetapi pelayanan yang disertai kepedulian membuka pintu untuk kolaborasi jangka panjang. Bahkan, dalam hubungan yang sehat, kepedulian bisa terjadi dua arah — pelanggan juga ingin penyedia layanan sukses.
    Mengapa? Karena mereka merasa berbagi masa depan bersama.

    Inilah tingkat tertinggi dari pelayanan — bukan sekadar customer care, tetapi shared future partnership.
    Di tahap ini, hubungan tidak lagi didasari oleh apa yang dibayar dan diterima, melainkan oleh kepercayaan, kolaborasi, dan komitmen tumbuh bersama.

    Menjadi Pemberi Care di Era Kompetitif

    Dalam dunia yang penuh pilihan, semua orang bisa memberi pelayanan. Tapi hanya sedikit yang mampu memberi care dengan tulus.
    Perusahaan yang benar-benar peduli:

    • Tidak berhenti di kontrak, tapi membuka ruang percakapan tentang masa depan.
    • Tidak sekadar memberi bonus, tapi memberi bimbingan dan arah karier.
    • Tidak hanya menjual produk, tapi ikut membantu pelanggan mencapai tujuannya.

    Dan pada akhirnya, pelanggan atau karyawan tidak akan berkata, “Mereka memberi pelayanan yang baik,” tapi akan berkata,

    “Mereka benar-benar peduli pada saya.”

    Itulah kekuatan sejati dari kepedulian — membangun hubungan yang tidak lekang oleh waktu.

    @erwinsnada | www.erwinsnada.my.id | +6287883385800