Author: admin

  • Kaya Bersyukur vs. Miskin Sabar: Mana yang Lebih Utama bagi Seorang Muslim?

    Kaya Bersyukur vs. Miskin Sabar: Mana yang Lebih Utama bagi Seorang Muslim?


    Pernahkah Anda mendengar kalimat, “Muslim itu harus kaya!”? Pernyataan ini sering kali memicu perdebatan panas. Ada yang setuju karena menganggap kekayaan adalah sarana dakwah, namun ada juga yang menolak keras karena dianggap terlalu mengejar dunia dan melupakan konsep zuhud.

    Dalam sebuah diskusi mendalam bersama Ustadz Khalid Basalamah, topik ini dibedah secara tuntas. Apakah benar Islam mewajibkan umatnya menjadi kaya? Bagaimana sebenarnya kedudukan harta dalam pandangan syariat? Mari kita bahas poin-poin pentingnya.

    1. Benarkah Muslim “Wajib” Kaya?

    Ketika ada seruan bahwa muslim “wajib kaya”, kita perlu meluruskan definisinya. Jika “wajib” yang dimaksud adalah hukum fikih (berdosa jika ditinggalkan), tentu ini keliru karena akan menghakimi orang miskin sebagai pendosa. Namun, jika “wajib” dimaknai sebagai motivasi, maka ini sangat dianjurkan.

    Ustadz Khalid menjelaskan sebuah kaidah menarik tentang perdebatan ulama mengenai mana yang lebih afdhal (utama): Orang Kaya yang Bersyukur atau Orang Miskin yang Bersabar?

    Jawabannya adalah: Orang Kaya yang Bersyukur lebih utama.

    Mengapa? Karena orang miskin yang bersabar, manfaat kesabarannya hanya kembali untuk dirinya sendiri. Sedangkan orang kaya yang bersyukur, dengan hartanya ia bisa membiayai orang miskin, membangun masjid, dan memberikan manfaat luas bagi umat.

    2. “Jangan Lupakan Bagianmu di Dunia”

    Islam tidak melarang kita mengejar dunia, bahkan dunia bisa menjadi wadah terbaik untuk meraih akhirat. Ustadz Khalid mengutip Surah Al-Qasas ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”.

    Seorang Muslim boleh tampil rapi, memiliki kendaraan yang nyaman, dan rumah yang luas. Konsepnya adalah Halalan Thayibah (Halal dan Berkualitas). Jika Anda mampu membeli buah anggur Grade A yang paling mahal dan berkualitas, silakan membelinya. Islam membolehkan kita menikmati kualitas terbaik selama itu adalah kebutuhan, bukan sekadar keinginan hawa nafsu yang berujung pada tabzir (pemborosan).

    Nabi Muhammad ﷺ sendiri menyebutkan empat pilar kebahagiaan dunia:

    1. Pasangan yang saleh/salehah.
    2. Tempat tinggal yang luas.
    3. Kendaraan yang nyaman.
    4. Tetangga yang baik.

    3. Lingkungan Menentukan Prestasi

    Ingin sukses dunia akhirat? Perhatikan lingkungan Anda. Ustadz Khalid membagikan pengalaman pribadinya saat kuliah di Madinah. Beliau mengamati bahwa mahasiswa yang duduk di barisan depan adalah mereka yang berprestasi dan serius mencatat ilmu, sementara barisan belakang sering kali diisi oleh mereka yang malas.

    Ketika beliau memutuskan pindah ke barisan depan dan bergaul dengan orang-orang berprestasi, nilai beliau pun ikut terdongkrak. Ini membuktikan kaidah Al-Mar’u ala diini khaliili (Agama seseorang tergantung agama temannya). Jika Anda ingin menjadi pengusaha muslim yang sukses, bergaullah dengan mereka yang memiliki visi yang sama, bukan dengan mereka yang justru menjatuhkan semangat Anda.

    4. Fatwa vs. Taqwa: Menghadapi Dilema Pekerjaan Haram

    Banyak pekerja muslim saat ini terjebak dalam dilema: bekerja di tempat yang mengandung riba atau praktik under table (suap). Bagaimana solusinya?

    Ustadz Khalid membedakan dua pendekatan: Fatwa dan Taqwa.

    • Fatwa: Mencari keringanan hukum atau celah yang membolehkan secara syar’i karena kondisi darurat/ketidakmampuan.
    • Taqwa: Kepatuhan total kepada Allah. “Ini haram, saya tinggalkan, saya tidak peduli konsekuensinya, Allah pasti ganti.”.

    Bagi Anda yang ingin mengambil jalan Taqwa (misalnya resign dari pekerjaan riba), ingatlah janji Nabi ﷺ: “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik”.

    Namun, perlu diingat adanya Sunnatullah (Hukum Alam) berupa proses. Penggantian itu tidak selalu instan “simsalabim”. Seperti rasa lapar yang hilang melalui proses makan dan mencerna, rezeki yang lebih baik juga butuh proses ikhtiar dan kesabaran. Nikmatilah proses hijrah tersebut.

    5. The Power of Umrah: Jalur Langit untuk Masalah Dunia

    Terakhir, sebuah tips pamungkas bagi Anda yang merasa jalan buntu dalam rezeki atau masalah keluarga. Syekh Muhammad Ash-Syinqithi memiliki nasihat: Jika Anda mampu, pergilah Umrah.

    Berdoalah di depan Ka’bah, di Multazam. Itu adalah tempat di mana doa-doa diijabah. Banyak kisah nyata, mulai dari masalah rumah tangga yang pelik hingga penyakit lumpuh yang sembuh, selesai setelah seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh di depan Ka’bah.

    Kesimpulan

    Menjadi kaya bukanlah sebuah kewajiban fikih, tetapi menjadi Muslim yang kuat secara finansial dan bertakwa adalah sebuah keutamaan. Jadikan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Kejarlah rezeki yang halal, bergaullah dengan orang-orang saleh dan sukses, serta jangan ragu menggunakan “jalur langit” untuk mengetuk pintu rezeki Allah.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    infografik - kaya vs miskin

  • Rahasia Tahajud dan Kekuatan Doa: Mengubah Hidup Menjadi Lebih Tenang dan Bahagia

    Rahasia Tahajud dan Kekuatan Doa: Mengubah Hidup Menjadi Lebih Tenang dan Bahagia

    Berikut adalah draf tulisan blog komprehensif yang dirangkum dari ceramah Ustadz Sonny Abi Kim, disusun agar mudah dibaca dan dipraktikkan.


    Pernahkah Anda merasa hidup sedang sempit, masalah tak kunjung usai, atau hati terasa gersang? Seringkali kita mencari solusi ke sana ke mari, namun lupa bahwa kunci utamanya ada pada komunikasi kita dengan Sang Pencipta.

    Dalam sebuah kajian yang menyentuh hati, Ustadz Sonny Abi Kim membagikan rahasia besar tentang bagaimana sholat Tahajud dan cara berdoa yang tepat bukan hanya mendatangkan rezeki, tetapi juga ketenangan jiwa yang sejati. Berikut adalah rangkuman komprehensif mengenai amalan dan pola pikir yang dapat mengubah hidup Anda.

    1. Rahasia Doa “Anti-Egois” Saat Tahajud

    Banyak dari kita yang ketika sholat Tahajud hanya sibuk meminta untuk keperluan diri sendiri. Namun, ada sebuah rahasia doa yang diajarkan oleh guru Ustadz Sonny untuk menarik energi positif yang luar biasa.

    Doakan Orang Lain Secara Spesifik Cobalah untuk tidak hanya mendoakan diri sendiri, anak, atau pasangan (karena itu sudah standar). Luaskan doa Anda. Sebut nama teman, saudara, atau orang lain yang sedang kesusahan,.

    • “Ya Allah, si Fulan sedang ada masalah, tolong dia ya Rabb.”
    • Bahkan, disarankan untuk menulis 7 sampai 40 nama orang yang ingin didoakan secara khusus.

    Mengapa ini penting? Seringkali masalah kita tidak selesai karena doa kita terlalu egois. Ketika kita mendoakan orang lain—bahkan orang asing yang kita lihat di rumah sakit atau di Tanah Suci—energi kebaikan itu akan kembali kepada kita,. Hati yang luas dan menginginkan kebaikan bagi orang lain akan menghilangkan sifat hasad (iri dengki) yang bisa menghanguskan amal.

    2. Waspadai 3 “Suara Batin” Perusak Kebahagiaan

    Untuk mendapatkan ketenangan, kita perlu mengelola suara-suara batin yang sering membisikkan hal negatif. Ada tiga hal yang harus diwaspadai:

    1. Tergesa-gesa (Ingin Serba Cepat): Jangan menuntut hasil instan. Nikmati prosesnya dengan berbaik sangka kepada Allah. Ingatlah kaidahnya: Jika Allah menetapkan sesuatu, itu yang terbaik. Jika Allah menunda, itu akan jadi semakin baik. Jika Allah mengganti, maka itu pasti lebih baik.
    2. Suka Mengeluh: Orang yang kufur nikmat ibarat melihat gelas yang setengah kosong, bukan setengah isinya. Fokus pada apa yang kurang akan membuat hidup terasa sempit. Sebaliknya, syukur akan menambah nikmat,.
    3. Hasad (Iri Dengki): Ini adalah penyakit hati yang berbahaya. Orang yang hasad tidak senang melihat orang lain bahagia dan ingin nikmat itu hilang dari orang tersebut. Kita harus berlindung dari sifat ini karena ia menyempitkan dada.

    3. Seni Memaafkan: Jangan Biarkan Kebencian Menguras Energi

    Ustadz Sonny menekankan perbedaan antara “tidak suka” dan “benci”. Tidak suka itu wajar dan boleh (misalnya tidak suka perilaku bohong), itu tanda kita punya prinsip. Namun, benci adalah penyakit.

    Benci membuat kita terus memikirkan orang tersebut dan menguras energi produktif kita. Ingatlah, tidak ada yang bisa menyakiti hati kita kecuali kita mengizinkannya. Sakit hati adalah pilihan.

    Tips Memaafkan: Sadari bahwa kita pun banyak dosa dan butuh ampunan Allah. Memaafkan orang lain adalah jalan agar Allah juga memaafkan kita (walya’fu walyasfahu). Latihanlah memaafkan setiap malam sebelum tidur.

    4. Kunci Doa yang Powerful: Hadirkan “Rasa”

    Bagaimana agar doa kita didengar dan berdampak? Selain faktor waktu (sepertiga malam, saat hujan) dan tempat (masjid, Raudah), faktor terpenting adalah RASA,.

    Doa yang sekadar di lisan tidaklah cukup. Hadirkan dua rasa ini saat berdoa:

    1. Rasa Hina: Akui bahwa kita penuh dosa dan kotor di hadapan Allah.
    2. Rasa Butuh: Tunjukkan bahwa kita sangat bergantung dan tidak punya siapa-siapa lagi selain Allah,.

    Para ulama mengajarkan untuk memperbanyak istigfar sebelum berdoa untuk menghadirkan rasa hina ini. Bahkan jika kita bingung mau minta apa, jadikan seluruh doa kita istigfar, karena jika Allah sudah mengampuni, segala urusan akan beres.

    5. Doa Spesifik untuk Menikmati Proses Hidup

    Ustadz Sonny membagikan sebuah doa indah agar kita tidak terjebak pada sifat terburu-buru dan bisa tawakal sepenuhnya:

    Allahumma as’aluka taufiq limahabbika minal a’mal, wa sidqa tawakkuli ‘alaik, wa husnadhzhanni bik.

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon taufik (bimbingan) untuk bisa beramal dengan amal-amal yang Engkau cintai, dan (karuniakanlah) tawakal yang benar/jujur kepada-Mu, serta prasangka yang baik kepada-Mu.”,.

    Doa ini membantu kita fokus beramal saleh dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan sangkaan terbaik.

    6. Titik Terendah adalah Titik Terindah

    Terakhir, bagi Anda yang merasa sedang berada di titik terendah dalam hidup, jangan berkecil hati. Seringkali, titik terendah justru adalah titik terindah.

    Lihatlah Sujud. Secara fisik, itu adalah posisi di mana kepala kita lebih rendah dari bokong kita. Namun secara spiritual, itulah posisi terdekat seorang hamba dengan Allah,.

    Kadang Allah perlu membuat suasana menjadi “gelap” agar cahaya-Nya terlihat jelas. Allah mungkin membiarkan kita kecewa oleh manusia agar kita berhenti berharap kepada makhluk dan kembali bergantung sepenuhnya hanya kepada-Nya,. Kejatuhan dan kegagalan adalah cara Allah membentuk karakter kita menjadi lebih bijaksana dan mengangkat derajat kita.


    Penutup Mari kita ubah rutinitas Tahajud dan doa kita. Mulailah mendoakan orang lain, bersihkan hati dari kebencian, hadirkan rasa butuh kepada Allah, dan nikmati setiap proses kehidupan dengan prasangka baik. Semoga Allah melapangkan dada kita dan memudahkan segala urusan. Aamiin.

    @erwinsnada | 0878 833 85 800

    unnamed (4)
  • Fenomena Job Hugging

    Fenomena Job Hugging

    Fenomena job hugging kini ramai diperbincangkan sebagai tren di dunia kerja, di mana karyawan cenderung bertahan di posisi lama walau peluang berkembang mulai terbatas. Kondisi ini dapat menghambat produktivitas perusahaan jika dibiarkan terlalu lama. Apa saja strategi efektif yang bisa diterapkan perusahaan untuk menghadapi tren ini?

    1. Memperkuat Budaya Kerja Positif

    Perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang terbuka dan suportif. Budaya kerja yang mendorong dialog dua arah memungkinkan karyawan menyampaikan kebutuhan dan aspirasi mereka, sehingga perusahaan bisa lebih responsif dalam memberikan solusi atas stagnasi atau kebosanan kerja. Pastikan komunikasi antara manajemen dan staf berjalan lancar untuk mencegah rasa jenuh serta meningkatkan loyalitas secara sehat.​

    2. Menyediakan Jalur Pengembangan Karir

    Karyawan job hugging seringkali merasa tidak berkembang. Perusahaan wajib menyediakan akses pelatihan berkala, mentoring internal, dan jalur promosi yang jelas agar mereka bisa melihat peluang pengembangan kompetensi. Program upskilling ini juga dapat menjaga motivasi kerja dan memberi alasan kuat bagi karyawan untuk tetap berkontribusi aktif.​

    3. Memberikan Fleksibilitas Kerja

    Kebijakan fleksibilitas seperti work from home, jam kerja fleksibel, atau rotasi tugas terbukti efektif dalam mencegah kebosanan serta burnout pada karyawan. Dengan sistem kerja yang adaptif, karyawan bisa menyesuaikan rutinitas mereka sesuai kebutuhan, tanpa harus merasa terjebak di zona nyaman yang membosankan.​

    4. Evaluasi dan Apresiasi Rutin

    Lakukan evaluasi rutin terhadap kinerja sekaligus berikan apresiasi atas pencapaian karyawan. Penghargaan, baik dalam bentuk materi maupun non-materi, merupakan motivator ampuh agar karyawan tetap semangat dan termotivasi dalam bekerja. Evaluasi juga membantu mendeteksi dini tanda-tanda stagnasi atau ketidakpuasan sebelum berdampak buruk bagi tim dan organisasi.​

    5. Ciptakan Tantangan dan Proyek Baru

    Dorong karyawan untuk mengambil peran baru atau terlibat dalam proyek berbeda di dalam perusahaan. Tantangan dan variasi pekerjaan mampu memicu inovasi sekaligus membantu karyawan keluar dari pola kerja yang monoton. Inisiatif ini penting agar karyawan tetap belajar, serta tidak hanya sekadar bertahan tanpa arah tujuan.​


    Optimasi strategi di atas akan menjadikan perusahaan lebih agile, meminimalisir dampak negatif job hugging, sekaligus mempertahankan talenta terbaik secara produktif dan loyal.

    @erwinsnada | +62 878 833 85800 | erwinsnada.my.id

  • Ingin Punya Brand yang Cetar ? Ini caranya!

    Ingin Punya Brand yang Cetar ? Ini caranya!

    Secara tak sengaja, saya mendapati sebuah podcast yang obrolannya membahas tentang branding, dari judulnya sangat menarik dan ternyata isinya daging semua. Berikut adalah ringkasannya.

    Kenali Dulu: Apa Itu Branding yang Efektif?

    Stephanie Regina, mantan brand manager di perusahaan FMCG ternama yang kini membangun Haloka Group, mengatakan bahwa banyak bisnis gagal bertahan karena terlalu fokus pada keinginan sendiri, lupa memahami kebutuhan konsumennya. Branding bukan sekadar logo atau nama keren, tapi bagaimana cara brand bicara dengan audiens, menyelesaikan masalah mereka, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Produk Market Fit: Pondasi Sebelum Bicara Branding

    Sering kali, pelaku usaha ingin langsung tampil dengan kemasan wow dan promosi besar-besaran. Padahal, jika produkmu tidak memecahkan masalah konsumen, semua upaya branding akan sia-sia. Intinya, “Branding enggak akan bisa nyelametin produk yang jelek. Produk lu tidak dibutuhkan konsumen, branding kayak gimana pun orang cuma coba sekali dan enggak balik,” tegas Stephanie.

    Strategi Awal: Mulai dari Sederhana, Validasi dengan Riset

    • Kenali konsumenmu secara langsung, jangan anggap semua orang suka apa yang kamu suka.
    • Lakukan riset sederhana: ngobrol, survei, wawancara singkat tentang kebiasaan mereka.
    • Jangan bias! Hobi pribadi tidak selalu sama dengan kebutuhan pasar.

    Momen Tepat Rebranding dan Pentingnya Visi Brand

    Brand yang sehat itu punya visi jangka panjang, tidak hanya untuk hari ini tapi juga generasi berikutnya. Kasus bisnis berlian yang bertahan 100 tahun jadi contoh penting: visinya selalu sama (“emas bikin hidup lebih baik”), tapi cara komunikasinya ikut perkembang zaman. Jadi, penting punya “brand purpose” dan evaluasi apakah komunikasi brand-mu masih nempel di hati konsumen.

    Proses Praktis Versi Haloka Group

    1. Brand Discovery Day
      Sesi khusus menggali cerita pendiri: motivasi, inspirasi, dan perjalanan membangun bisnis.
    2. Brand Purpose Canvas
      Menyusun fondasi nilai inti (core values), keunggulan produk (competence), dan segmen audiens.
    3. Turunkan ke Komunikasi & Hashtag
      Setelah fondasi kuat, baru tuang jadi strategi komunikasi digital atau non-digital.

    Apa yang Harus Dilakukan Founders & Pebisnis Kecil?

    • Validasi dulu: Produk kamu benar-benar dibutuhkan?
    • Mulai branding dari hal-hal fungsional (nama, logo, packaging).
    • Upgrade ke branding emosional setelah produk diterima pasar.
    • Pertimbangkan untuk bekerja sama dengan pihak ketiga (konsultan/agency) bila branding terasa membingungkan, tapi pastikan kamu terlibat aktif – brand agency hanya membantu menggali & merapikan potensi terbaik bisnis kamu.

    ROI Branding: Nabung Efek Jangka Panjang

    Brand building itu seperti menabung logam mulia: investasi efek jangka panjang, hasilnya bukan instan. Untuk kebutuhan operasional dan sales cepat, lakukan brand activation (promosi, campaign, event). Keduanya harus berjalan seimbang agar bisnis tetap tumbuh sehat.

    Kesimpulan: Branding Harus Adaptif & Relevan

    Branding bukan tujuan, tapi alat untuk menjaga bisnis tetap relevan. Lakukan riset rutin, dengarkan konsumen, perbarui komunikasi brand jika perlu, dan jangan ragu berubah jika itu membuat produkmu makin dekat dengan kebutuhan pasar. Ingin bisnis bertahan lama? Berpikirlah seperti brand generasi kedua dan ketiga: obeses melayani konsumen, bukan sekadar mengalahkan kompetitor.

    @erwinsnada | +6287883385800 | learning facilitator | branding enthusiast


  • Strategi Sales & Marketing Efektif untuk Bisnis Jasa

    Strategi Sales & Marketing Efektif untuk Bisnis Jasa

    Ingin meningkatkan jumlah klien dan mempercepat pertumbuhan bisnis jasa Anda? Untuk meraih hasil maksimal, penting memahami bahwa strategi pemasaran untuk produk tidak bisa langsung diterapkan pada bisnis jasa. Artikel ini menguraikan tiga kunci utama strategi sales dan marketing yang terbukti ampuh untuk bisnis jasa, berdasarkan paparan Adam Erhart, pakar pemasaran internasional.youtube​

    Apa Bedanya Menjual Jasa dan Produk?

    Menjual jasa berarti menawarkan sesuatu yang tidak berwujud—tidak bisa dilihat, disentuh, atau dicoba sebelum dibeli pelanggan. Akibatnya, penting fokus pada hasil akhir (end result), bukan sekadar detail layanan.youtube​

    1. Finish Line Language: Sorot Hasil Akhir

    Pelanggan membeli jasa karena ingin solusi atas masalah mereka, bukan sekadar “fitur” dari layanan Anda. Gunakan bahasa yang menggambarkan hasil “garis akhir” untuk klien, seperti:

    • Bukan sesi konsultasi 60 menit, tetapi peningkatan performa atau kesehatan klien.
    • Bukan paket layanan marketing, tetapi peningkatan revenue dan pertumbuhan bisnis pelanggan.
    • Bukan jasa potong rumput, tetapi bebas waktu untuk keluarga di akhir pekan.youtube​

    Ingat kutipan populer: “Orang tidak membeli bor, mereka membeli lubang di dinding.” Bahkan lebih jauh, mereka butuh lubang untuk memasang sesuatu yang berarti bagi mereka, misalnya lukisan keluarga.

    2. Rasio Fitur ke Manfaat: Utamakan Keuntungan Klien

    Salah satu kesalahan pemasaran jasa adalah terlalu menekankan fitur, bukan manfaat. Fokuslah pada apa yang didapatkan pelanggan, bukan sekadar bagaimana layanan diberikan.

    Contoh perbedaan fitur dan manfaat:

    • Fitur: Pengiriman 24 jam.
    • Manfaat: Barang sampai dengan cepat, tanpa cemas.
    • Fitur: Konsultasi online.
    • Manfaat: Hemat waktu, bisa diakses dari mana saja.

    Prinsipnya, setiap fitur harus dikaitkan langsung dengan nilai tambah untuk kehidupan pelanggan.

    3. CASE Funnel: Alur Sales dan Marketing yang Terbukti Efektif

    Adam Erhart memperkenalkan model funnel sederhana tapi efektif, yaitu CASE Funnel, terdiri dari:

    Tahapan CASE FunnelPenjelasan
    TrafficArahkan audiens (dari sosmed, blog, YouTube, iklan) ke tahapan berikutnya
    Opt-inTawarkan lead magnet (e-book, cheat sheet, video gratis) agar mereka memberikan data kontak.
    Authority AmplifierBerikan nilai tambahan via pelatihan singkat atau konten edukatif untuk bangun kepercayaan.
    Application FormKumpulkan data lebih detail melalui formulir aplikasi khusus untuk filter prospek berkualitas.
    Calendar BookingProspek memilih jadwal konsultasi atau meeting dengan Anda.
    Sales CallProses penjualan dilakukan; besar kemungkinan klien sudah teredukasi dan siap join.

    Dengan funnel seperti ini, Anda tidak hanya mendapatkan calon klien yang lebih siap, tapi juga dapat memilih klien mana yang cocok untuk diajak kerja sama.

    Kesimpulan

    Menerapkan tiga kunci utama di atas—Finish Line Language, Rasio Fitur ke Manfaat, dan CASE Funnel—akan memperbesar peluang bisnis jasa Anda dalam mendapatkan lebih banyak klien, efisiensi proses penjualan, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Fokuslah selalu pada hasil akhir bagi pelanggan, bukan sekadar detail layanan. Terapkan alur funnel yang sistematis, sediakan edukasi dan nilai tambahan di setiap tahap penjualan.​

    @erwinsnada | +6287883385800 | www.erwinsnada.my.id


  • Strategi Customer Experience: Kunci Bertahan di Era Kompetisi Modern

    Strategi Customer Experience: Kunci Bertahan di Era Kompetisi Modern

    Di era digital yang semakin kompetitif, pengalaman pelanggan (customer experience) bukan sekadar tren—ini adalah pondasi keberhasilan bisnis jangka panjang. Bahkan menurut studi Gartner dan Walker, 89% bisnis pada tahun 2025 lebih mengutamakan pengalaman pelanggan dibanding harga atau produk sebagai senjata utama bersaing.​

    Mengapa Bisnis Gagal? Bukan karena Produk, Tapi Layanan

    Banyak dari kita pernah kecewa dengan layanan sebuah perusahaan. Biasanya, masalahnya bukan soal harga mahal atau produk yang buruk, melainkan pelayanan yang tidak memuaskan. Pengalaman pribadi Patrick Bet-David sebagai CEO membuktikan, ketika produk atau teknologi alami masalah besar, bisnisnya tetap bertahan karena timnya konsisten memberikan layanan luar biasa. Klien tetap loyal bahkan memaafkan kekurangan teknis, karena mereka merasa didengar dan dihargai.​

    Kerugian Besar karena Layanan Buruk

    Jangan sepelekan efek layanan yang mengecewakan. Forbes melaporkan, kerugian global akibat pelayanan pelanggan yang buruk mencapai USD 3,7 triliun setiap tahunnya! Artinya, pelanggan benar-benar siap berpindah ke kompetitor tanpa toleransi jika merasa diabaikan.​

    Customer Service Bukan Urusan Divisi Saja

    Salah satu pesan terpenting dari video ini adalah: obsesi terhadap pelayanan pelanggan harus dimulai dari level teratas, bukan hanya tugas divisi customer service. Patrick mencontohkan betapa efektifnya melibatkan diri secara langsung bahkan untuk merespons pelanggan yang kecewa atau marah. Dengan sekali telepon, bahkan pelanggan yang sangat kritis bisa berubah pikirannya, atau minimal merasa dihargai sehingga tidak lagi menyebarkan opini negatif secara agresif.​

    Kecepatan dan Aksesibilitas Jadi Penentu Loyalitas

    Sebuah survei US Chamber of Commerce menunjukan 83% pelanggan merasa lebih loyal kepada brand yang responsif dan cepat menangani komplain. Ketika pelanggan butuh bantuan, cepat tanggap dan mudah dijangkau jauh lebih dihargai daripada proses berbelit-belit tanpa solusi. Patrick bahkan membangun komunitas support dimana seluruh level karyawan siap menjawab pertanyaan pelanggan kapan saja, termasuk CEO sendiri.

    Komitmen Jangka Panjang dan Budaya Perusahaan

    Menjadikan layanan istimewa sebagai budaya butuh komitmen seumur hidup, bukan sekadar proyek satu-dua bulan. Patrick menegaskan, konsistensi dalam memberikan pengalaman terbaik—untuk pelanggan maupun tim internal—akan menjadikan perusahaan dan pemimpinnya layak jadi panutan. Bahkan jika suatu hari pelanggan memutuskan pergi, itu terjadi karena mereka tidak menghargai nilai service, bukan karena kita gagal memberi layanan maksimal.​

    Catatan Penutup: Customer Service Itu Mindset

    Tidak peduli apakah Anda pemilik bisnis, agen asuransi, atau karyawan—pemikiran “pelayanan bintang lima” seharusnya menjadi mindset dalam keseharian. Prioritaskan sikap tanggap, jujur, dan menghargai setiap interaksi. Dengan begitu, bukan hanya bisnis yang bertumbuh, tapi juga reputasi personal sebagai pemimpin dan insan yang pantas diikuti.

    @erwinsnada | +6287883385800

  • Jangan Hanya Memberi Layanan, Tunjukkan Kepedulian: Rahasia Membangun Hubungan yang Bertahan Lama

    Jangan Hanya Memberi Layanan, Tunjukkan Kepedulian: Rahasia Membangun Hubungan yang Bertahan Lama

    Banyak orang berpikir bahwa memberikan pelayanan (service) yang baik sudah cukup untuk memenangkan hati pelanggan. Tapi menurut Ron Kaufman, pakar dunia dalam bidang pelayanan, ada perbedaan besar antara service dan care. Dan di sinilah letak rahasia dari hubungan jangka panjang—baik dengan pelanggan, rekan kerja, maupun organisasi.

    Service: Memberi Nilai untuk Saat Ini

    Pelayanan adalah tentang memenuhi kebutuhan yang disepakati. Misalnya, seorang karyawan merasa perusahaannya memberi pelayanan yang baik karena ia mendapat gaji yang layak, fasilitas kerja memadai, atau bahkan promosi dan acara kantor yang menyenangkan. Semua itu tentu penting, tetapi pelayanan yang baik hanyalah pemenuhan kebutuhan saat ini.

    Dalam konteks bisnis, service berarti memenuhi kontrak: apa yang dipesan pelanggan, disampaikan dengan tepat waktu, sesuai spesifikasi, dan dengan sikap profesional. Semua berjalan lancar — tetapi hubungan berhenti di situ saja.

    Masalahnya, pelayanan seperti ini hanya menciptakan transaksi, bukan hubungan.

    Care: Perhatian untuk Masa Depan

    Care berbeda. Ia berbicara tentang kepedulian terhadap masa depan orang lain. Dalam organisasi, bentuknya bisa berupa mentoring, coaching, kesempatan pengembangan karier, atau peluang untuk berkolaborasi lintas tim dan negara. Artinya, perusahaan tidak hanya ingin karyawan “selesai bekerja hari ini,” tetapi ingin mereka tumbuh dan berkembang esok hari.

    Dalam dunia pelanggan, care berarti tidak hanya memenuhi kontrak, tetapi juga memikirkan apa yang benar-benar mereka butuhkan di masa depan. Penyedia layanan yang peduli akan bertanya:

    “Apa lagi yang bisa kami bantu agar bisnis Anda berkembang?”
    “Bagaimana kami bisa mendukung keberhasilan Anda jangka panjang?”

    Ketika pertanyaan seperti ini muncul, pelanggan tahu bahwa Anda bukan hanya vendor, tetapi mitra yang peduli. Dan saat pelanggan memikirkan proyek masa depan, siapa yang akan pertama kali mereka hubungi? Tentu orang yang benar-benar peduli pada mereka.

    Dari Transaksi ke Kemitraan

    Pelayanan tanpa kepedulian bisa berakhir di satu transaksi. Tetapi pelayanan yang disertai kepedulian membuka pintu untuk kolaborasi jangka panjang. Bahkan, dalam hubungan yang sehat, kepedulian bisa terjadi dua arah — pelanggan juga ingin penyedia layanan sukses.
    Mengapa? Karena mereka merasa berbagi masa depan bersama.

    Inilah tingkat tertinggi dari pelayanan — bukan sekadar customer care, tetapi shared future partnership.
    Di tahap ini, hubungan tidak lagi didasari oleh apa yang dibayar dan diterima, melainkan oleh kepercayaan, kolaborasi, dan komitmen tumbuh bersama.

    Menjadi Pemberi Care di Era Kompetitif

    Dalam dunia yang penuh pilihan, semua orang bisa memberi pelayanan. Tapi hanya sedikit yang mampu memberi care dengan tulus.
    Perusahaan yang benar-benar peduli:

    • Tidak berhenti di kontrak, tapi membuka ruang percakapan tentang masa depan.
    • Tidak sekadar memberi bonus, tapi memberi bimbingan dan arah karier.
    • Tidak hanya menjual produk, tapi ikut membantu pelanggan mencapai tujuannya.

    Dan pada akhirnya, pelanggan atau karyawan tidak akan berkata, “Mereka memberi pelayanan yang baik,” tapi akan berkata,

    “Mereka benar-benar peduli pada saya.”

    Itulah kekuatan sejati dari kepedulian — membangun hubungan yang tidak lekang oleh waktu.

    @erwinsnada | www.erwinsnada.my.id | +6287883385800

  • Tulisan ini khusus untuk yang berusia 40 tahun keatas!

    Tulisan ini khusus untuk yang berusia 40 tahun keatas!

    PHK massal kembali menghantam, bukan hanya di perusahaan raksasa seperti Gudang Garam (meskipun Unilever disebut mengalami laba turun). Namun, di balik angka efisiensi, ada krisis kemanusiaan yang tersembunyi.

    Ini bukan tentang Gen Z yang adaptif. Ini tentang nasib para senior, usia 40-an hingga 50-an, yang mendadak kehilangan segalanya.

    Ketika Leader Gagal Melihat ke Depan

    Keputusan PHK sebetulnya adalah sinyal bahaya. Menurut James Gwee (pakar sales), PHK massal menunjukkan kegagalan leadership yang sudah bisa dilihat setidaknya dua tahun sebelumnya.

    Kepemimpinan sejati bukan sekadar mengelola target harian atau menjadi “tukang peres” karyawan. Seorang pemimpin harus melihat jauh ke depan (tren pasar, teknologi, demografi). Jika tanda-tanda kemunduran sudah ada, tapi pemimpin tidak melakukan antisipasi drastis (misalnya, beradaptasi seperti industri rokok yang harusnya beralih ke vape), maka PHK adalah kegagalan mutlak.

    Poin Kunci: PHK seharusnya tidak terjadi mendadak. Perusahaan punya kewajiban moral untuk membimbing (memberi skill baru) karyawan 3 bulan sebelum di-PHK agar mereka punya modal usaha awal.


    Jurang Kesenjangan Digital yang Mematikan

    Mengapa PHK ini sangat menyakitkan bagi usia 40-an ke atas? Karena mereka menghadapi jurang kesenjangan mindset dan skill:

    1. Gagap Digital: Sebagian besar (hingga 80% dari sampel) bahkan tidak punya TikTok. Mereka hanya familiar dengan Facebook, sementara dunia mencari uang sudah beralih ke platform baru.
    2. Minder Entrepreneur: Setelah puluhan tahun menjadi karyawan, mereka tidak punya pola pikir wirausaha. Jangankan berbisnis, mengambil risiko kecil pun sulit.
    3. Beban Keluarga Tinggi: Mereka umumnya adalah tulang punggung keluarga dengan biaya anak sekolah/kuliah yang sedang tinggi-tingginya. Ketika pendapatan hilang, mereka menderita sendirian (suffer in silence).

    Mereka tidak punya modal digital Gen Z, dan tidak punya mindset “loncat” ke afiliator atau dropshipper. Padahal, di sinilah solusi sesungguhnya berada.


    Solusi Sales “Modal Nol” di Era Digital

    Dunia saat ini adalah zaman termudah untuk mencari pendapatan tanpa membutuhkan modal uang (financial capital).

    Lupakan menyewa ruko 2 tahun di depan, mencetak ribuan brosur, atau memasang iklan mahal di TV. Kini, peran sales (makelar) sudah bertransformasi menjadi:

    • Afiliator & Dropshipper
    • Agregator (seperti Gojek, Shopee)
    • Penjual Produk Digital

    Anda bisa menjual 15 produk berbeda di marketplace atau TikTok tanpa harus menyetok barang atau punya dapur produksi. Modal yang dibutuhkan hanyalah mindset dan keterampilan digital.

    Kekuatan Storytelling Mengalahkan Fitur Produk

    Masalahnya, banyak yang gagal dalam sales karena terlalu fokus pada fitur produk (“Ini kandungannya A, rasanya B”). Ini salah!

    James Gwee menunjukkan cara menjual dengan nilai emosional dan storytelling:

    Alih-alih menyuruh Anda membeli cake Dapur Coklat untuk dimakan sendiri, ia meminta Anda menjadikannya media rasa terima kasih. Kirimkan cake berkualitas ini kepada lima orang yang pernah berjasa membuka jalan bagi Anda di masa lalu.

    Ini menjual sebuah cerita (“I still remember your kindness“) dan memanfaatkan reputasi brand untuk membangun kembali hubungan yang hilang.

    Tips Closing & Referal: Agar potensi penjualan maksimal, mintalah jumlah yang spesifik. Jangan hanya bilang, “Beli satu!” Katakan, “Kasih saya lima nama dan alamat. Lima orang ini akan terkejut dan hati mereka hangat karena Anda masih mengingat kebaikan mereka.” Permintaan yang spesifik akan memicu ingatan dan emosi, meningkatkan penjualan dan potensi referal.


    Penutup: Saatnya Adaptasi, Bukan Meratap

    Bagi Anda yang berusia 40-an ke atas dan takut terdampak PHK, sadari bahwa hambatan terbesar Anda bukanlah uang, melainkan kemauan untuk beradaptasi.

    Dunia sales digital menyediakan platform dan produk. Tugas Anda adalah mengasah keterampilan bercerita dan menguasai algoritma digital. Mulailah dari nol, karena di era ini, “modal nol” bukan lagi mitos.


    Bagaimana pendapat Anda? Apa hal pertama yang akan Anda pelajari untuk beradaptasi di era digital ini?

    www.erwinsnada.my.id | 0878 833 85 800 | @erwinsnada

  • Ketika Isue Efisiensi Sudah Tidak Relevan Gara-gara Ini!

    Ketika Isue Efisiensi Sudah Tidak Relevan Gara-gara Ini!

    Pelatihan karyawan sering kali menjadi kunci untuk memastikan perusahaan tetap kompetitif. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar, pelatihan karyawan yang efektif dapat menjadi katalisator utama untuk peningkatan produktivitas. Ketika pelatihan ini berhasil meningkatkan produktivitas karyawan, isu efisiensi – yang sering kali menjadi perhatian utama – mulai kehilangan relevansinya. Mengapa demikian? Mari kita analisis.

    Pentingnya Pelatihan dalam Meningkatkan Produktivitas

    Pelatihan karyawan bukan hanya sekadar formalitas atau upaya untuk memenuhi kewajiban manajemen sumber daya manusia. Pelatihan yang dirancang dengan baik memiliki peran signifikan dalam meningkatkan keterampilan, motivasi, dan efisiensi kerja karyawan. Berdasarkan laporan dari Association for Talent Development (ATD), perusahaan yang berinvestasi lebih besar dalam pelatihan karyawan menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 218% lebih tinggi dibanding perusahaan yang tidak melakukan pelatihan.Selain itu, studi dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa perusahaan yang secara konsisten memberikan pelatihan kepada karyawannya mampu meningkatkan output kerja hingga 30% lebih tinggi. Artinya, pelatihan tidak hanya membentuk karyawan yang lebih terampil, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih efektif.

    Produktivitas vs Efisiensi: Mengapa Efisiensi Tidak Lagi Relevan

    Efisiensi sering kali menjadi tolok ukur utama dalam pengelolaan bisnis. Namun, ketika pelatihan berhasil meningkatkan produktivitas, fokus pada efisiensi sebagai ukuran utama menjadi kurang relevan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

    1. Efisiensi adalah Hasil Akhir, Bukan Proses Utama Efisiensi sering kali diukur dalam hal bagaimana sumber daya (seperti waktu, tenaga, dan biaya) dimanfaatkan seefektif mungkin untuk mencapai hasil tertentu. Namun, pelatihan yang baik tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada peningkatan kemampuan karyawan untuk mengelola pekerjaan secara lebih efektif. Dengan kata lain, pelatihan mendorong karyawan untuk bekerja dengan “cara yang lebih cerdas” alih-alih sekadar “lebih cepat”.
    2. Produktivitas Meningkatkan Nilai Kerja Ketika produktivitas meningkat, nilai keluaran dari pekerjaan karyawan juga meningkat. Misalnya, seorang karyawan yang menerima pelatihan teknologi baru dapat menyelesaikan pekerjaan yang jauh lebih kompleks dalam waktu yang sama. Hal ini membuat fokus pada efisiensi – seperti pengurangan waktu – menjadi kurang signifikan dibandingkan dengan dampak nyata dari peningkatan produktivitas.
    3. Efisiensi Tidak Selalu Meningkatkan Kinerja Jangka Panjang Upaya untuk meningkatkan efisiensi sering kali berfokus pada pengurangan biaya atau waktu tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Sebaliknya, pelatihan yang meningkatkan produktivitas menciptakan karyawan yang lebih inovatif dan berdaya saing, yang pada akhirnya memberikan keuntungan jangka panjang untuk perusahaan.

    Fakta dan Data: Dampak Pelatihan terhadap Produktivitas

    Beberapa data global mendukung pentingnya pelatihan dalam meningkatkan produktivitas:

    • LinkedIn Workplace Learning Report (2023): 94% karyawan menyatakan bahwa mereka bersedia bertahan lebih lama di perusahaan yang berinvestasi pada pelatihan dan pengembangan.
    • Harvard Business Review: Perusahaan yang berinvestasi pada pelatihan karyawan mencatat peningkatan produktivitas rata-rata sebesar 20%-25% dibanding perusahaan yang tidak melakukannya.
    • World Economic Forum (WEF): Dalam laporan “Future of Jobs 2023”, disebutkan bahwa 50% karyawan akan membutuhkan pelatihan ulang (reskilling) untuk menghadapi perubahan teknologi dalam lima tahun mendatang. Pelatihan ini diyakini mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan di berbagai sektor.

    Studi Kasus: Perusahaan yang Sukses Meningkatkan Produktivitas Melalui Pelatihan

    1. Amazon: Upskilling 2025 Amazon meluncurkan program “Upskilling 2025” dengan investasi sebesar $700 juta untuk melatih 100.000 karyawan di seluruh dunia. Hasilnya, karyawan yang mengikuti pelatihan melaporkan peningkatan efisiensi kerja hingga 30%, sekaligus memungkinkan mereka untuk mengambil peran yang lebih kompleks.
    2. Unilever Unilever memberikan pelatihan berbasis teknologi kepada karyawannya untuk meningkatkan keterampilan digital. Setelah pelatihan, produktivitas tim meningkat hingga 25%, dengan waktu penyelesaian proyek berkurang secara signifikan.

    Kesimpulan: Pelatihan sebagai Solusi Utama

    Ketika pelatihan yang efektif mampu meningkatkan produktivitas karyawan, fokus pada efisiensi sebagai indikator utama kerja menjadi usang. Produktivitas yang tinggi mencerminkan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan, baik melalui peningkatan kualitas kerja, inovasi, maupun kemampuan karyawan untuk beradaptasi dengan perubahan. Pelatihan bukan sekadar investasi pada sumber daya manusia – melainkan fondasi untuk menciptakan organisasi yang tangguh, inovatif, dan relevan di era modern.Oleh karena itu, perusahaan perlu mengalihkan fokusnya dari sekadar mencapai efisiensi menuju pengembangan produktivitas yang berkelanjutan melalui pelatihan karyawan. Efisiensi mungkin penting, tetapi produktivitas adalah kunci keberhasilan jangka panjang.

    @erwinsnada | 0878 833 85 800

  • Pentingnya Pelatihan Customer Service: Kunci Memenangkan Persaingan Bisnis

    Pentingnya Pelatihan Customer Service: Kunci Memenangkan Persaingan Bisnis

    Produk berkualitas dan harga yang kompetitif saja tidak lagi cukup untuk menjadi pemenang. Pelanggan kini mencari sesuatu yang lebih: pengalaman. Di sinilah peran customer service (layanan pelanggan) menjadi garda terdepung sekaligus pembeda utama. Namun, tanpa pembekalan yang tepat, tim customer service tidak akan bisa memberikan performa maksimal.

    Inilah mengapa pelatihan customer service bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah investasi strategis yang krusial bagi perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif dan memenangkan hati pelanggan.

    Mengapa Layanan Pelanggan Menjadi Pembeda Utama?

    Produk bisa ditiru, strategi harga bisa disaingi, tetapi pengalaman positif yang dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan sebuah merek akan terus melekat. Pengalaman inilah yang membentuk persepsi, membangun kepercayaan, dan pada akhirnya, menentukan apakah seorang pelanggan akan kembali lagi atau beralih ke kompetitor.

    Sebuah tim layanan pelanggan yang terlatih adalah wajah dan suara perusahaan Anda. Mereka memiliki kekuatan untuk mengubah keluhan menjadi kepuasan dan mengubah pelanggan biasa menjadi duta merek yang loyal.

    Manfaat Strategis Pelatihan Customer Service untuk Keunggulan Kompetitif

    Berinvestasi dalam pelatihan customer service yang komprehensif memberikan dampak langsung pada berbagai aspek bisnis yang mendukung kemampuan bersaing perusahaan.

    1. Meningkatkan Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan

    Staf yang terlatih memiliki kemampuan komunikasi, empati, dan pemecahan masalah yang lebih baik. Mereka dapat menangani pertanyaan dan keluhan pelanggan dengan cepat dan efektif. Pelanggan yang merasa didengar dan dibantu dengan baik akan jauh lebih puas.

    • Dampak: Kepuasan pelanggan yang tinggi adalah fondasi dari loyalitas pelanggan. Pelanggan yang loyal tidak hanya akan melakukan pembelian berulang, tetapi juga cenderung tidak sensitif terhadap kenaikan harga dan tidak mudah tergoda oleh penawaran kompetitor.

    2. Membangun Reputasi dan Citra Merek yang Positif

    Setiap interaksi layanan pelanggan adalah momen untuk memperkuat citra merek. Pelayanan yang ramah, profesional, dan solutif akan menciptakan reputasi positif dari mulut ke mulut (word-of-mouth), baik secara online maupun offline.

    • Dampak: Reputasi yang kuat akan menarik pelanggan baru secara organik. Di dunia digital saat ini, ulasan positif adalah aset pemasaran yang tak ternilai harganya.

    3. Meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas Tim

    Pelatihan memberikan standar operasional (SOP) yang jelas bagi tim. Mereka tahu persis bagaimana harus bertindak dalam berbagai skenario, mengurangi kebingungan dan waktu penyelesaian masalah.

    • Dampak: Tim yang efisien dapat menangani lebih banyak interaksi pelanggan dengan kualitas yang tetap terjaga. Ini mengurangi biaya operasional dan mencegah masalah kecil menjadi besar karena penanganan yang lambat.

    4. Menciptakan Peluang Up-selling dan Cross-selling

    Seorang agen customer service yang terlatih tidak hanya reaktif dalam menyelesaikan masalah, tetapi juga proaktif dalam melihat kebutuhan pelanggan. Dengan pemahaman produk yang mendalam dan kemampuan membaca sinyal dari pelanggan, mereka dapat merekomendasikan produk atau layanan tambahan yang relevan.

    • Dampak: Ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan pendapatan perusahaan tanpa harus mengeluarkan biaya akuisisi pelanggan baru.

    5. Mengurangi Tingkat Churn (Kehilangan Pelanggan)

    Salah satu alasan utama pelanggan meninggalkan sebuah merek adalah karena pengalaman pelayanan yang buruk. Dengan memberikan pelatihan penanganan keluhan dan pelanggan yang sulit, perusahaan dapat secara signifikan mengurangi tingkat churn.

    • Dampak: Mempertahankan pelanggan yang sudah ada jauh lebih hemat biaya daripada mencari pelanggan baru. Tingkat churn yang rendah adalah indikator kesehatan dan keberlanjutan bisnis.

    Kesimpulan: Investasi Jangka Panjang untuk Kemenangan Bisnis

    Di tengah persaingan bisnis yang ketat, mengabaikan kualitas layanan pelanggan adalah sebuah kesalahan fatal. Pelatihan customer service bukanlah biaya, melainkan investasi fundamental untuk masa depan perusahaan.

    Dengan membangun tim yang andal, berempati, dan solutif, perusahaan tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga membangun benteng pertahanan yang kokoh melalui loyalitas dan reputasi positif. Pada akhirnya, perusahaan yang paling peduli dan paling siap melayani pelanggannyalah yang akan keluar sebagai pemenang.

    @erwinsnada | +62878 833 85 800